Prandelli Tetap Latih Italia

, Roma : Cesare Prandelli sudah harus melupakan kegagalannya merebut Piala Eropa. Pada hari-hari mendatang, dia telah disibukkan oleh persiapan membuat program kerja tim nasional ke depan. Program ini pula yang akan dia presentasikan kepada para pengurus Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), termasuk sang ketua, Giancarlo Abate. Prandelli memang telah memutuskan melanjutkan kerja dengan FIGC untuk dua tahun mendatang. Satu yang mendorongnya mempercepat keputusan itu adalah kekalahan yang mereka alami dalam pertandingan final Piala Eropa 2012, Ahad lalu. Tim Italia tampil tak berdaya saat berhadapan dengan Spanyol. Mereka dibantai dengan empat gol tanpa balas. “Kekalahan itu mengubah pandangan saya. Saya telah membuat keputusan untuk bertahan. Itu murni keputusan saya sendiri,” ujar Prandelli. Malah, kata dia, kini dirinya merasa tertantang untuk mencapai kesuksesan bersama tim nasional. Secara kualitas, tim asuhannya tidaklah kalah. Menurut Prandelli, kekalahan tersebut disebabkan oleh banyak hal, salah satunya kelelahan karena terus bermain dalam pertandingan yang ketat. Malah, dalam pertandingan itu, dia pun memuji Andrea Pirlo cs, yang dinilai telah bermain baik dan mampu melewati ekspektasi para pengamat dan penggemar. “Para pemain pun telah menunjukkan permainan bagus. Jika saya harus menilai, saya beri nilai delapan dari maksimal sepuluh untuk tim. Tidak pantas jika saya meninggalkan mereka dalam kondisi seperti sekarang,” Prandelli menambahkan. Menurut Prandelli, para pemain telah menunjukkan semangat, mimpi, dan kerja keras satu sama lain. “Itu yang membuat saya bangga,” katanya. Penampilan Italia di Polandia-Ukraina pun dipuji beberapa kalangan. Seusai konferensi pers di Olympic Stadium, Kiev, Ukraina, semalam, jurnalis Italia memberi aplaus kepada Prandelli, dan dibalas pelatih 54 tahun itu dengan tepuk tangan ke arah jurnalis. Namun, saat melawan sang juara bertahan, Italia justru terlihat seperti kehabisan tenaga dan tidak mampu keluar dari tekanan. “Anda bisa lihat sendiri. Kami tidak memiliki banyak waktu untuk memulihkan diri. Fisik Spanyol seperti ada di level yang berbeda jika dibandingkan dengan kami. Tapi kami akan berkembang untuk terus kompetitif di masa depan,” ucap pelatih kelahiran Orzinuovi, Brescia, tersebut. Pengakuan atas buruknya kondisi fisik para pemain juga diakui Wakil Ketua Umum FIGC Demetrio Albertini. “Sulit memulihkan fisik hanya dalam dua hari. Salah satu cara untuk tetap kompetitif barangkali adalah mengganti lima atau enam pemain di starting line-up . Tapi orang-orang akan menyebutnya gila,” ujar mantan pemain AC Milan tersebut. Ketua Umum FIGC Giancarlo Abate pun enggan berlarut meratapi kegagalan Italia tahun ini. Pencapaian hingga final, kata dia, merupakan sebuah kesuksesan, melihat persiapan yang tidak begitu matang yang dilakukan anak asuh Prandelli. “Ini sudah sebuah kesuksesan bagi Italia. Sekarang kami harus terus bermimpi untuk sukses di masa depan,” ujar Abate. Prandelli, sebelumnya, sempat mengutarakan niat pensiun dari timnas Italia seusai Piala Eropa karena merasa tidak mendapat dukungan maksimal saat mempersiapkan tim sebelum berangkat ke Polandia-Ukraina. Ia juga sempat mengaku rindu pada suasana pertandingan setiap pekan dan berlatih setiap hari. Prandelli sendiri baru dua tahun menduduki jabatan pelatih kepala timnas Italia, menggantikan Marcelo Lippi setelah gagal di Piala Dunia 2010. “Ada yang bilang saya memiliki hubungan buruk dengan federasi, tapi itu tidak benar. Ada target yang masih ingin saya capai di masa depan. Target yang menarik meski sulit,” kata Prandelli. RAI SPORT | | | ARIE FIRDAUS

Sumber: Tempo.co