Pesta Bola, Pesta Rasis

, London : Setelah ayah dan kakak Theo Walcott, orang tua Alex Oxlade-Chamberlain juga memutuskan membatalkan rencana untuk menemani anak mereka bertanding pada Piala Eropa yang akan digelar dua pekan lagi. Paling akhir, dua hari lalu, Joleon Lescott menyatakan bahwa keluarganya hanya akan hadir bila negaranya mencapai babak final. Mereka adalah tiga dari delapan pemain kulit hitam yang ada di tim nasional Inggris. Alasannya satu: takut keselamatan mereka terancam karena masalah rasialis. “Yang menjadi pertanyaan, mengapa menggelar kompetisi di negara yang para polisinya tak bisa memberi rasa aman kepada orang asing,” kata kakak Walcott, Ashley. Diikuti 16 negara, kejuaraan empat tahunan yang berlangsung pada 8 Juni sampai 1 Juli itu bakal diselenggarakan di Polandia dan Ukraina. Laga pertama akan digelar di Warsawa, Ukraina, dan partai final dilangsungkan di Kiev, Ukraina. Ini pesta olahraga besar pertama di kawasan Eropa Timur sejak Olimpiade 1980 Moskow, Rusia. Meski era komunisme Uni Soviet–yang menjadi pusat kekuasaan Eropa Timur, termasuk Ukraina, salah satu negara pecahan Uni Soviet–telah berlalu sekitar dua dekade, sejatinya suasana Eropa Timur baru masih asing bagi sebagian besar orang di belahan dunia lain. Euro 2012 menjadi salah satu jendela untuk mengintip keseharian mereka secara riil. Dan rasisme menjadi awan gelap yang ditakuti para peserta, terutama para pemain dan suporter dari Eropa Barat–diperkirakan Polandia dan Ukraina bakal dibanjiri sekitar dua juta pengunjung saat perhelatan Euro berlangsung. Kabar soal sentimen warna kulit ini telah menggema dari banyaknya berita soal pelecehan terhadap ras yang terjadi di pertandingan antarklub di Eropa Timur, dalam hal ini di Ukraina dan Polandia. Holigan garis keras Polandia dan Ukraina adalah pemuja paham ultra-kanan Adolf Hitler. Berkepala skinhead , mereka membenci orang-orang kulit berwarna dan Yahudi. “Suporter yang mengunjungi Ukraina harus berhati-hati bila menyangkut warna kulit,” kata Max Tucker dari Amnesty International. Reportase yang ditulis The Sun edisi akhir April lalu membuat ngeri para pembaca, terutama masyarakat Inggris, tempat harian itu terbit. Holigan yang menamakan diri Patriot Ukraina mempersiapkan diri dengan berlatih ala militer di kamp rahasia di Ukraina bagian barat khusus untuk “berperang” melawan holigan dari Inggris saat kedua tim bertemu, 15 Juni nanti. “Jenderal” Patriot Ukraina bernama Serhiy Syavchuk mengungkapkan dengan jelas ideologi mereka. “Piala Eropa untuk orang Eropa,” kata pria berusia 26 tahun ini. “Jika ada pemain Inggris berkulit hitam, itu berarti Ukraina tidak berhadapan dengan Inggris, tapi dengan orang-orang Afrika.” Dalam video yang dilansir The Sun di situsnya, tampak beberapa orang bertopeng berlatih melempar pisau, menembakkan senapan, dan melakukan aneka latihan militer yang lain. Mereka selayaknya orang yang siap bertempur. Di Donetsk, kota tempat bertemunya kesebelasan Ukraina dengan Inggris nanti, terdapat kelompok suporter garis keras yang menamakan diri mereka The Donetsk Company. Pemimpinnya bernama Tolik, orang nomor satu dalam daftar buruan polisi Ukraina. Tapi, sejauh ini, anehnya, para polisi tak juga bisa menangkap Tolik. The Donetsk Company sangat rasis. Polandia juga memiliki catatan masalah rasisme yang mengerikan. Pada November 2008, ketika dua klub dari Krakow, yaitu Cravocia dan Wisla, bertemu, suporter kedua klub mendeklarasikannya sebagai “perang suci”. Suporter Wisla menyanyikan lagu-lagu anti-Yahudi, ras yang identik dengan para pendiri Cracovia. Sebaliknya, ketika pemain Wisla asal Brasil yang berkulit hitam, Cleber, mendapat kartu merah, suporter Cracovia menirukan suara monyet. Hanya, menurut beberapa orang, ketakutan dunia luar terlalu berlebihan. Konstanty Gebert, seorang kolumnis berdarah Yahudi asal Polandia, menuturkan bahwa sebagian masyarakat Polandia memang rasis. “Tapi ini bisa terjadi di mana saja,” katanya. “Saat saya berjalan-jalan di Polandia dengan kippah (penutup kepala khas Yahudi), saya tak mengalami masalah. Di Paris (Prancis), kippah saya malah mendapat penghinaan.” Sementara itu, penulis bernama Oleksandr Sereda membela Ukraina. Serena menganggap berita The Sun sama sekali tak valid. “Saya hidup di Donetsk selama 31 tahun dan tak pernah sekali pun menemukan masalah dengan kebiasaan buruk suporter sepak bola, termasuk yang berhubungan dengan kejahatan rasialis. Donetsk adalah kota yang dihuni masyarakat dengan 113 kebangsaan yang berbeda.” Tapi Don, ayah Theo Walcott, belum tentu sependapat. Dia pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana suporter Bulgaria menirukan suara monyet setiap anaknya membawa bola pada babak kualifikasi tahun lalu. Don, dan kakak Walcott, Ashley, tak mau hal itu terulang di depan matanya, apalagi bila menemui situasi yang lebih parah. BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA

Sumber: Tempo.co