Rano Karno Dorong “Seren Taun” Jadi Daya Tarik Wisata Banten

Lebak – Gubernur Banten Rano Karno mendorong agar tradisi Seren Taun masyarakat Kasepuhan Cisungsang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang bisa dikenal secara nasional dan internasional. Karena itu, Rano berjanji pada tahun 2017 mendatang, Pemerintah Provinsi Banten akan memberikan bantuan dana dari alokasi dana hibah sebesar Rp 1 miliar guna menyokong terselenggaranya tradisi Seren Taun masyarakat Kasepuhan Cisungsang. “Setiap kali ada acara Seren Taun di Cisungsang, masyarakat pengunjung yang datang begitu banyak bukan hanya berasal dari Banten tetapi juga dari Jakarta, Bogor, Sukabumi dan daerah lainnya. Pihak masyarakat Kasepuhan Cisungsang harus menanggung makan gratis bagi seluruh pengunjung. Saya coba mencari tahu ke Kasepuhan (Ketua Adat) Masyarakat Cisungsang Abah Usep, dana untuk menanggung biaya makan para pengunjung hampir mencapai Rp 1 miliar. Karena itu, kami dari Pemprov Banten harus berbuat sesuatu. Kami harus ikut membantu, kendati dalam tradisi masyarakat Kasepuhan Cisungsang, acara adat Seren Taun memberi makan gratis itu sudah biasa dilakukan,” ujar Rano pada acara Seren Taun di Cisungsang, Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Minggu (28/8). Menurut Rano, tradisi Seren Taun di Cisungsang perlu didorong untuk jadi objek wisata budaya. Karena itu, perlu dukungan pembangunan infrastruktur yang memadai termasuk guest house (rumah penginapan) bagi para pengunjung dan lain-lain. “Tradisi Seren Tahun di Cisungsang sudah berjalan 700 tahun. Biasanya para pengunjung menginap di rumah warga tanpa dipungut biaya. Karena itu mungkin perlu dipikirkan untuk membangun penginapan. Kalau pun menginap di rumah warga, maka rumah warga tersebut perlu dibuat seperti home stay sehingga pengunjung perlu membayar sehingga ekonomi di masyarakat Kasepuhan Cisungsang juga ikut diberdayakan,” ujarnya. Rano menegaskan, tradisi Seren Taun Cisungsang adalah kearifan lokal sebagai salah satu jati diri Banten yang harus dilestarikan. Budaya adat Banten Kidul merupakan aset yang dimiliki oleh Banten dengan segala kekhasannya. Selain sebagai ritual tahunan, Seren Taun juga menjadi objek pariwisata lokal yang saat ini tengah diajukan ke Kementrian Pariwisata (Kempar) untuk dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda sama dengan beberapa kebudayaan dan kesenian yang sudah tercatat diantaranya seperti Seba Baduy, Debus dan Ubrug. “Pada acara Seren Taun 2016 ini, saya sengaja mengundang 24 wartawan media nasional, dengan tujuan agar tradisi Seren Taun masyarakat Kasepuhan Cisungsang menggema di tingkat nasional bahkan internasional. Kami sangat berharap dengan publikasi yang semakin meluas, acara Seren Taun ini bisa dikenal secara nasional dan internasional,” ujarnya. Rano mengatakan, saat ini pemerintah tengah melakukan perbaikan infrastruktur di Banten Selatan agar pembangunan di sektor pariwisata terus menggeliat menuju kesejahteraan rakyat. “Kunjungan warga ke acara Seren Taun ini terus meningkat. Bahkan saya kaget ketika mendapat informasi dari Abah Usep bahwa pengunjung atau wisatawan ke acara ini selama tujuh hari mencapai 15.000 orang,” ujar Rano. Lebih lanjut Rano mengatakan, tahun depan pihaknya menginstruksikan kepada Sekda Banten agar acara Seren Taun mendapat sokongan dana pemerintah Rp 1 miliar. “Semoga tahun depan acara Seren Taun terus bergema dan lebih besar dan harus masuk dalam kalender nasional pariwisata sama halnya dengan acara Seba Baduy, ” ujarnya. Sementara itu, Kasepuhan (Ketua Adat) Masyarakat Cisungsang Abah Usep mengatakan, prosesi Seren Taun merupakan syukuran setiap usai panen yang dilaksanakan di Imah Gede Kesepuhan Cisungsang. Ada bawaan padi dari masyarakat, ada rangkaian acara lainnya selama satu minggu. “Masyarakat yang hadir dipersilakan makan secara gratis, ini bukan acara komersial,” kata Abah Usep. Abah Usep mengatakan bahwa tradisi itu sudah berlangsung sekitar 700 tahun lalu dan dijalankan secara turun-temurun setiap tahun. Bahkan, kunjungan warga yang ingin menyaksikan tradisi tersebut setiap tahunnya terus meningkat. “Dahulu pada saat para tamu yang datang ke acara ini sekitar 1.000 sampai 3.000 orang, kami masih mmapu ngasih makan. Sekarang lebih dari itu, kami keteter. Untuk itu, perlu dicarikan solusinya seperti apa agar kami juga bisa melayani semua tamu yang datang ke sini. Akan tetapi, tidak ingin membebani masyarakat di sini,” kata Abah Usep. Ia mengatakan bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk syukur masyarakat Cisungsang atas hasil panen yang mereka peroleh serta sebagai jembatan silaturahmi antara masyaralat Cisungsang dan Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Lebak. Selain itu, kegiatan tersebut juga sebagai sarana rekreasi masyarakat dengan menyuguhkan berbagai hiburan dan kesenian. Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan bahwa di Kabupaten Lebak ada beberapa kesepuhan yang tergabung Kesatuan Adat Banten Kidul (Sabaki). Kesepuhan di Banten tersebut di antaranya ada di Citorek, Sobang, Cisungsang, dan Cipta Gelar. “Saya berharap tradisi masyarakat adat ini bisa tetap dilestarikan dan menjadi salah satu destinasi pariwisata di Lebak dan Banten yang memberikan kontribusi bagi kesejehtaraan masyarakat sekitar,” katanya. Kunjungan Gubernur Banten ke Banten Selatan juga dirangkaikan dengan beberapa agenda kerja, antara lain melakukan pemantauan pembangunan jembatan Bolang di Malingping, mengunjungi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Saung Pintar Malingping, menghadiri silaturahmi akbar dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMHD) di Kecamatan Cigemblong, bertemu dengan nelayan Bayah di Kecamatan Bayah dan rangkaian acara ditutup dengan menghadiri Jambore Linmas se-Provinsi Banten di Kecamatan Cibeber, Lebak. Laurens Dami/ALD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu