Arah Ekonomi Indonesia Sudah Tepat

Jakarta – Mantan Presiden Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) Jean-Claude Trichet menilai, strategi yang dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam mengejar ketertinggalan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur secara besar-besaran sebagai langkah yang tepat. Hal itu sangat positif bagi perekonomian Indonesia dalam jangka panjang. “Mohon dimengerti saya tidak ingin berpura-pura memahami soal ekonomi negara Anda. Tapi, saya melihat, orientasi ekonomi (Indonesia) telah berada pada arah yang tepat,” ujar Trichet menjawab pertanyaan Investor Daily seputar strategi ekonomi Presiden Jokowi yang getol membangun infrastruktur meski kemampuan anggaran sangat terbatas di Jakarta, pekan silam. Jawaban itu ia berikan dalam wawancara terbatas dengan sejumlah media, beberapa saat setelah ia tampil sebagai pembicara dalam seminar dengan tema “Challenges to Global Economy”. Seminar yang digelar dalam rangka peringatan ulang tahun ke-11 Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu juga menghadirkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai pembicara kunci ( keynote speaker ). Secara keseluruhan, menurut dia, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah merepresentasikan beberapa kebijakan ekonomi makro yang didedikasikan untuk strategi jangka panjang, bukan untuk strategi ekonomi jangka pendek. “Ini saya anggap hal yang tepat,” ujar Trichet yang menjabat sebagai presiden ECB selama dua periode dari 2003 hingga 2011. Dalam rentang 2009 hingga 2014, anggaran infrastruktur nasional yang hanya naik dalam kisaran Rp 20 triliun hingga Rp 40 triliun per tahun, sejak Presiden Jokowi memerintah pada akhir 2014, anggaran infrastruktur melonjak tajam. Pada 2014 anggaran infrastruktur hanya Rp 206,6 triliun, namun ada 2015 anggaran infrastruktur melonjak menjadi Rp 290 triliun, naik menjadi Rp 317,1 triliun pada 2016 (APBN-P), dan dalam RAPBN 2017 diusulkan Rp 346,6 triliun. Hanya saja, karena keterbatasan pendapatan negara, anggaran pembangunan infrastruktur itu sebagian harus dibiayai dari utang. Pada Kamis (22/9), pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati defisit anggaran dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017 sebesar 2,41% dari produk domestik Bruto (PDB). Dengan perkiraan PDB sebesar Rp 13.776 triliun, maka nilai nominal defisit anggaran sekitar Rp 332 triliun. Berdasarkan asumsi tersebut, maka pembiayaan tahun depan diperkirakan sebesar Rp 334,48 triliun dengan rincian pembiayaan utang sebesar Rp 339 triliun, pembiayaan investasi minus Rp 48,7 triliun, pemberian pinjaman minus Rp 6,4 triliun, kewajiban penjaminan minus Rp 924 miliar, serta pembiayaan lainnya Rp 300 miliar. Sangat Potensial Trichet mengaku sangat kagum dengan kondisi perekonomian Indonesia pascahantaman krisis moneter di Asia Tenggara pada 1997/1998. Menurut dia, krisis yang dialami Indonesia kala itu cukup berat dan sulit dibayangkan bisa diatasi. “Tapi, menurut saya, Indonesia pada saat itu menerapkan strategi jangka menengah yang tepat untuk keluar dari krisis,” kata dia. Dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa, Trichet berpandangan, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sangat potensial. “Itu merupakan potensi yang besar untuk skala Asia Tenggara. Jumlah penduduk Indonesia juga merupakan yang terbesar ke empat di dunia. Dengan demikian, Indonesa memiliki potensi yang fantastis,” tandas dia. Sebelumnya Trichet menyatakan, perekonomian Indonesia tidak boleh bergantung pada sektor moneter, tapi harus lebih bertumpu pada sektor riil melalui penguatan sektor industri. Strategi seperti ini dinilai akan membuat nilai tukar rupiah menjadi kuat dan tidak mudah tertekan saat kondisi ekonomi dalam ketidakpastian. “Yang paling penting adalah membenahi struktur ekonomi, karena itulah yang akan memperkuat currency (mata uang). Sektor riillah yang akan menghasilkan devisa melalui aktivitas ekspor,” papar dia. Melalui pembenahan struktur ekonomi tersebut, kata Trichet, maka ekonomi Indonesia bisa tumbuh secara berkualitas dan berkelanjutan. Selanjutnya, pertumbuhan itu juga bisa menciptakan lapangan kerja dan menjaga daya beli masyarakat sehingga ekonomi bisa terus bergulir. Nasori/NAS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu