Hendropriyono Tak Mau Jadi Menteri, Kata Putranya

Rimanews – Kontribusi mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) AM. Hendropriyono dalam menyukseskan Jokowi-JK untuk lolos terpilih sebagai Presiden-Wakil Presiden cukup besar. Meski demikian, ia menolak menjabat apapun dalam pemerintahan Jokowi-JK. Hal itu mengemuka saat diskusi kebangsaan bertema “Dicari: sikap Kenegarawanan menghadapi Tantangan Bangsa ke Depan” yang diinisiasi DHN 45 di Gedung Joeang 45 Menteng Jakpus, Kamis (16/10). Baca Juga JK: Semoga Masyarakat Makin Siap Hadapi Bencana Aktivis George Aditjondro Meninggal di Palu 3 Serangan Sri Bintang Pamungkas yang Membuat Telinga Jokowi Merah Tiga Putri Soekarno di Pusaran Pilgub DKI JK: Usulan Moratorium UN Ditolak “Semalam Ayah banyak cerita ke saya. Beliau, bilang ciri-ciri negawaran itu sadar ruang dan waktu. Meski ruangnya ada, waktunya belum tentu. Ayah saya, bilang sudah tak punya waktu, sudah confirm tidak akan jadi apapun. Tidak mau jadi menteri. Karena beliau sadar sudah bukan waktunya, usianya 69 tahun,” kata Diaz. Diaz pun enggan menceritakan apakah Hendropriyono sudah ditawari menteri atau belum oleh Jokowi. Namun, dia menegaskan, Hendropriyono tak akan mau menerima jabatan apapun lagi. Kata Diaz, ayahnya menyerahkan jabatan menteri atau jabatan apapun kepada yang lebih muda. “Tetapi beliau senang sudah mendukung Jokowi menjadi Presiden. Yang menilai orang negarawan atau bukan, adalah orang lain, bukan saya anaknya. Semoga masih banyak yang seperti itu. Yang tahu ruang dan waktu,” ujarnya. Sikap kenegarawanan kata Diaz salah satunya adalah sadar ruang dan waktu. Diaz mencontohkan keputusan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang mempersilakan Jokowi nyapres. “Padahal beliau punya kendaraan besar namanya PDIP. Itulah sikap negarawan, yakni tahu kapan mulai dan tahu kapan berhenti,” ujarnya. Ketua Umum Relawan Koalisi Anak Muda (Kawan) Jokowi ini mengatakan, Indonesia butuh negarawan pasca persaingan Pilpres yang begitu dahsyat. Salah satunya adalah yang bisa dan yang mau mengaku kalah. “Di Amerika pada era civil war. Ada Jenderal yang dalam setiap pidatonya, mengaku saya orang Virginia, wilayah yang ingin jadi negara. Begitu jenderal itu kalah, pidatonya berganti, ya saya orang Amerika. Padahal ini perang, bukan kompetisi,” ujar Diaz memberi contoh. “Mc Cain dan capres Amerika yang kalah, nelphon ngasih selamat. Kalau di sini kalah, nuntut, mau memakzulkan dan pakai segala cara menjegal. Padahal budaya kita lebih luhur. Negarawan itu yang tidak haus kekuasaan. Seperti Gadjah Mada yang tetap setia menjadi patih saja meski punya kekuatan tempur yang dahsyat,” tambahnya. Diaz juga sempat mengomentari soal diangkatnya menantu Hendropriyono, Brigjen Andika Perkasa menjadi Danpaspampres Jokowi. Diaz membantah pengangkatan kakak iparnya sebagai nepotisme. “Nggak ada namanya campur tangan dari ayah saya. Memang (Andika) punya keberhasilan dan sudah waktunya diangkat. Saya kira itu prestasi beliau,” kata Diaz. Brigjend Andika, kata Diaz memang dikenal cukup lama oleh Jokowi. “Kenal sudah lama dan kenal keluarga, kenal ayah saya juga. Pak Jokowi kenal baik keluarga sampai cucu ayah saya. Tapi bukan itu alasan (penunjukkan) saya kira,” imbuh dia. Diaz mengimbau agar kakak iparnya bekerja dengan baik mengawal Jokowi. Tak hanya itu, ia juga mengucapkan terima kasih pada Jokowi yang sudah memberi kepercayaan dan menunjuk Andika. “Semoga Pak Jokowi bisa terbantu dalam pengamanan. Saya mewakili keluarga berterima kasih karena Pak Jokowi percaya pada kakak ipar saya untuk menjaganya,” pungkasnya. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Hendropriyono , DIaz , Kawan Jokowi , JK , KIH , KMP , Megawati , politik , Nasional

Sumber: RimaNews